jump to navigation

[URGENT] Tentang Sekolah Kita February 3, 2010

Posted by akhdaafif in berita duka, forsipat.
add a comment

Saya pertama buka facebook, trus baca note dari angkatan 2007. Isinya memberitahukan dan mengajak teman-teman angkatan 2007 buat ikutan membantu anaknya (alm) pak Purwoto yang sekarang jadi yatim piatu. Lantas, saya nanya anak yang bikin note itu untuk klarifikasi. Cari validitas datanya. Ternyata gak bisa. Dia juga dapet info dari temennya. Makanya, trus saya minta Indra buat telpon ke bu Endang, memastikan kebenaran datanya.

Dan ternyata, Indra malah dapat kabar “bonus” dari bu Endang. Tidak hanya membenarkan tentang kondisi anaknya (alm) pak Purwoto, tetapi juga ada kabar lain. Berikut ini kabarnya:
1. Ketiga anak (alm) Pak Purwoto, yang masih kecil sekarang jadi yatim piatu. Anak pertama lulus SMP, yang kedua masih SMP dan yang ketiga masih SD. Saat ini mereka diasuh oleh Pakdhenya.
2. Bukan hanya itu, ada berita lainnya yang juga butuh perhatian kita. Pak Daryono, 4 hari ini di RS karena sakit jantung.
3. Kemudian, istri dari pak Joni sedang menderita kanker ganas.
4. Subuh pagi tadi dapet info tambahan dari Bu Endang. Istri Pak Samujo (karyawan TU) terkena stroke.

Saya belum tau kebijakan 2004 seperti apa. Teman-teman dari 2005 dan 2007 sedang ngumpulin dana. Saya takut aja, bahwa mind set kita nantinya kalo ada info beginian pasti ke dana. Dana memang salah satu bantuan yang bisa kita berikan. Tapi, ada hal lain yang juga bisa dan harus dilakukan.
1. Yang utama, adalah mendoakan sesuai dengan adab-adab yang berlaku di agamanya. Itu salah satu bentuk penghormatan ke beliau-beliau ini.
2. Sebagaimana yang dulu pernah saya sampaikan, yang bisa dan sempat, monggoh bersilaturahim langsung. Insya Allah itu sangat menyenangkan beliau-beliau ini. Tentunya sambil memberikan dukungan moral yang bisa menyemangati.
3. Yang lain lagi, adalah dengan mengabarkan info ini ke seluruh rekan-rekan kita. Bisa pake telepon. Pake sms juga gak salah. Didatengin rumahnya langsung juga gak papa.

Kalo dalam perspektif saya, ini salah satu kesempatan buat berlomba-lomba dalam kebaikan. Gak ada masalah. Monggoh dilakukan sebisa dan semampu masing-masing. Forum angkatan ini memang bukan cuma buat ngumpulin orang tiap lebaran. karena saya yakin, kita semua bisa jauh lebih bermanfaat dari itu.

NB:
1. MOHON YANG SUDAH MEMBACA NOTE INI, TOLONG PUBLIKASIKAN LAGI KE TEMAN-TEMAN YANG LAIN DENGAN MEDIA APA SAJA

2. YANG MAU TRANSFER KE REKENING FORSIPAT, SILAKAN KIRIM KE ZAMORA MANTAU-FORSIPAT MANDIRI CABANG TEGAL AR HAKIM, NOMOR 1390009925375. MOHON KABARI ZANORA LEWAT SMS, JUMLAH DANA YANG SUDAH DITRANSFER

3. MULAI HARI INI (SELASA, 2 FEBRUARI 2010) HINGGA BEBERAPA HARI KE DEPAN SUDAH BISA MENTRANSFER KE REKENING DI ATAS SUWUN

Jalan-Jalan Regional Jakarta March 19, 2009

Posted by forsipat in acara.
add a comment

Menindaklanjuti rencana awal yang digagas saudara Ipin (udu ipin prajurit lho…) mengenai “ngumpul bareng….NGUBER” yang sempet tertunda, maka FORSIPAT regional Jakarta dan sekitarnya akan melanjutkan sebuah kegiatan yang dahsyat, heboh, spektakuler, fantastis, fenomenal, mutakhir.

Kita bisa ngumpul-ngumpul, piknik, refreshing, poto-poto, ngobrol-ngobrol, dan masih banyak aktifitas lain yang bikin kita tambah akrab. Kami mengundang temen-temen dimanapun anda berada untuk dapat bergabung bersama.

Hari, Tanggal : Sabtu, 28 Maret 2009
Tempat : Kebun Raya Bogor

Kalo yang belum pernah ke sana, mending ngumpul aja dulu di Kediaman Bung Afif :
Asrama PPSDMS Nurul Fikri Regional I Jakarta
Jalan Lenteng Agung Raya 20 Jakarta Selatan 12640
(turun di halte gerbatama UI)

KUMPUL JAM 8
yang langsung ke Bogor jam 9.30 ajah ya kita ketemuan di sana.
“Pastikna wis sarapan ato ngisi weteng ndisit. Kesel bol mlaku2 ning bogor sikile nyong nganti gempor ” Apip said

Untuk konfirmasi dan keterangan lebih lanjut hubungi.
Afif : 0856 9366 8305
Afri : 0857 8043 8625

Ditunggu responnya yach….
(Temen-temen Jakarta : AFIF, AFRI, OPENK, IPIN, DIDI, AMEL, IMAMUM, MIA, KUSUMA, INDRA, CIPTO, LISYA, TIKA, SANI, TYA, RIO, ASYEH, MILLATI, HANEZ, FAJAR, IMAN, ROSALIA, FILEMON, AENUL, IPIN (PRJURIT), AR SUK, OKTO, ZAENAL (TARNO), WIWIT, dan masih banyak lagi yang lainnya….. )

Temen-temen lain dari luar Jakarta dan sekitarnya juga yang mo ngikut boleh ko….Semarang, Bandung, Purwokerto, Tegal, kami tunggu ya…di sini.

Nb. Biaya ditanggung peserta sendiri termasuk biaya panitia lho…

Berkaca Tentang Diri Dan Belajar Dengan Hati Indonesiaku March 15, 2009

Posted by forsipat in nulis aja.
add a comment

 

Nurcholish Madjid, atau biasa disapa Cak Nur, dalam bukunya ”Indonesia Kita” menerangkan bahwa seorang pemimpin harus dapat bersikap asketis, yaitu self denial (ingkar diri sendiri) dan tidak menikmati reward perjuangan dalam jangka pendek serta menunda kesenangan (to defer the gratification). Dalam sikap asketis tersebut kembali ditegaskan tentang filosofi rebung. Jadilah rebung dan jangan menjadi pisang. Pisang memiliki daun yang lebar sehingga tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk mendapatkan cahaya matahari—yang dibutuhkan untuk dapat hidup. Maka jadilah rebung yang berdaun kecil dan rela bertelanjang badan, sehingga anaknya mendapat sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan serta berselimut tebal.

Menarik untuk dicermati perihal pernyataan di atas, jika kita kaitkan dengan kodisi sekarang yang terjadi di negeri ini. Semisal, polemik tentang pemberian gelar pahlawan yang ramai dibicarakan khalayak, serta sampai pada pertanyaan akan dibawa kemanakah bangsa ini. Ibarat sebuah panggung sandiwara, sungguh negeri ini nampak sedang memainkan sebuah drama komedi yang diperankan oleh para dagelan yang siap membuat tawa para penontonnya. Para dagelan tersebut kini tengah bersiap-siap membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal dengan aksi bodor dan nyleneh-nya. 

Negara dan bangsa yang sejatinya dipenuhi dengan orang-orang cerdas nan serius tiba-tiba berubah menjadi panggung sandiwara komedi yang dipenuhi dengan dagelan-dagelan yang nyleneh dan tidak serius. Bagaimana tidak, negeri yang sekarang tengah dilanda beberapa persoalan dengan kebijakan-kebijakan dari negara yang mencekik rakyatnya dengan seketika langsung dialihkan pada berita meninggalnya salah satu bapak bangsa. Media yang sebelumnya ramai memberitakan tentang pemerintah dengan segera disulap menjadi berita duka cita. Hal tersebut diperparah dengan polemik apakah si tokoh trsebut layak disebut pahlawan atau tidak. Media pun turut ambil bagian dalam hal ini.

Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tahunnya ternyata masih belum menjadi pelajaran dan pembelajaran yang santun bagi para insan pers nasional. Sebagian besar media malah dengan serta merta memberitakan hal-hal yang semacam itu dengan porsi yang lebih besar ketimbang memberitakan pemerintah dengan kebijakan-kebijakannya yang sebelumnya sempat ramai dibicarakan. Parahnya lagi, dengan ditambahnya berita-berita (infotaintmen) yang porsinya pun semakin diperbesar. Bukan esensi yang dikejar, namun pasar dan keuntungan yang menjadi prioritas. Pers nasional nampaknya harus kembali memaknai peranan dan fungsinya. Pers harus dapat mencerdaskan bangsa dengan berita dan informasi yang dihadirkan. Tentunya dengan berita-berita dan informasi yang berkualitas, dan sekali lagi tidak tergantung dari pasar.

Pengalihan masalah publik menjadi marak belakangan ini. Publik dibingungkan dengan pemberitaan dari media yang terkadang tidak konsisten. Hari ini media berkata ”tidak”, bisa jadi esoknya media berkata ”ya”. Publik seperti disihir untuk mengikuti apa yang media katakan. Namun, pengalihan wacana atau masalah ini tentunya tidak terlepas dari peran pemerintah juga. Dengan alih-alih serta dalih kepentingan pemerintah menutup ”kesalahannya” dengan mengalihkan wacana, salah satu alatnya dengan media. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah reaksi publik seperti demonstrasi. 

Demonstrasi oleh publik dilakukan sebagai respon dari adanya kekecewaan kepada salah satu pihak. Kekecewaan tersebut biasanya muncul yang salah satunya disebabkan oleh kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Kebijakan yang merupakan produk dari pemerintah terkadang tidak tepat sasaran, yang sejatinya untuk kepentingan publik malah untuk kepentingan sesaat segelintir elit. reaksi akibat adanya hal tersebutlah yang pada akhirnya memunculkan demonstrasi, yang biasanya dimotori oleh mahasiswa. Mungkin sedikit membenarkan kata pepatah bahwa, ”tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api”. 

Saatnya Berkaca dan Belajar

Mungkin sesaat kita akan teringat akan salah satu tayangan televisi yang memparodikan negara lengkap dengan pemerintahan dan para pejabatnya. Dimana sang aktor mampu membuat penontonnya tertawa sekaligus berpikir. Kritikan yang sejatinya ditujukan kepada pemerintah dikemas dengan banyolan-banyolan yang terkadang pedas di telinga. Setelah terlepas dari belenggu orde baru negeri ini sedikit bisa menghirup udara demokrasi. Keran demokrasi terbuka lebar sehingga siapapun boleh berbicara. Setiap orang bebas untuk mengkritik pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Media menjadi salah satu alat penyaluran demokrasi tersebut.

Telah tiba waktunya bangsa ini berkaca dan belajar dari apapun dan siapapun. Negeri ini harus dapat belajar dari pemimpin-pemimpin besar. Negeri ini pun dapat belajar dari pengalaman dan kejadian-kejadian yang telah mewarnai perjalanan bangsa. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar yang kaya akan pemimpin-pemimpin serta kenyang dengan pengalaman bukan hal yang sulit dalam mencari referensi untuk belajar. Dengan belajar kita akan bisa menutup segala kekurangan kita. Dengan berkaca kita juga akan mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya. Seperti apakah bangsa Indonesia yang sebenarnya. 

Bangsa ini sudah banyak dinodai dengan korupsi oleh segelintir orang. Namun, dampaknya dirasakan oleh setiap orang yang hidup di tanah yang maha subur ini. Bayangkan saja, berdasarkan data statistik setiap dari kita menanggung hutang Rp. 5.000.000 (bahkan lebih), termasuk bayi yang baru lahir. Kejahatan yang dilakukan terdahulu harus ditanggung akibatnya oleh kita, generasi sekarang. Akankah bangsa ini terus ”menghasilkan” hutang?

Seperti telah dikatakan oleh Cak Nur, bangsa ini harus memiliki seorang pemimpin yang asketis. Pemimpin yang tidak membanggakan dirinya, yang mengingkari dirinya. Pemimpin yang menunda kesenangan dan bersedia dengan rela tidak bahagia sebelum rakyatnya sejahtera. Pemimpin yang tidak kenyang sebelum rakyatnya kenyang, dan tidak tidur nyenyak sebelum rakyatnya dapat tidur. Bangsa ini juga begitu merindukan pemimpin yang mampu memberikan cahaya bagi rakyat dan generasi setelahnya. Pemimpin yang rela bertelanjang dada kedinginan diguyur hujan dan kepanasan diterpa surya. Memberikan selimut hangatnya untuk sang anak layaknya sebuah rebung. Sekaranglah saat yang tepat untuk belajar dan berkaca. Berkaca tentang diri dan belajar dengan hati.

**Nur Edi Yanto
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FISIP Unpad 2004 
Crew CORETAN
Aktif dalam dunia pers kampus
HP.0813 229 44263 
e-mail: fr_edimercuri@yahoo.com
blog: http://mahamerusemesta.blogspot.com

Profil Kandidat Koordinator FORSIPAT February 24, 2009

Posted by forsipat in cita-cita, forsipat.
9 comments

1. Sam Farisa Chaerul
Lahir di Tegal, 28 Februari 1986
Pendidikan sekarang di Teknik Informatika Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Pengalaman berorganisasi tidak disebutkan
Mottonya “Practice makes perfect, but nobody is perfect so why practice?”
Program unggulan:
a. Annual Forsipat Gathering
b. Temu Kangen Forsipat dan Guru SMANSA

2. Widhya Nugroho
Lahir di Tegal, 8 Oktober 1986
Pendidikan sekarang adalah perkuliahan program beasiswa unggulan Depdiknas Double Degree Manajemen Sumber Daya Pantai Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang
Pengalaman berorganisasi
a. BEM FPIK (2005-2006)
b. Marine Geometric Centre Undip
c. FORMASI (Forum Mahasiswa Islam) FPIK (2005)
d. UKSA-387 (Unit Kegiatan Selam) UNDIP (2006)
e. TIDAR (Tunas Indonesia Raya) (2009)
Mottonya “Il Faut C Qu’il Faut Quand Les Temps Arrivent (berbuatlah apa yang seharusnya dilakukan saat waktunya tiba)”
Visi Revitalisasi forum angkatan dua ribu empat (FORSIPAT) sebagai wadah komunikasi dan silaturahmi yang universal yang mencakup segala aspek kehidupan bermasyarakat rongewu papat
Misi
a. Reuni akbar 5 tahunan dengan kapasitas semua makhluk rongewu papat
b. Jadikan FORSIPAT sebagai satu-satunya wadah paling up to date dan efektif untuk segala informasi keterwakilan makhluk rongewu papat
c. Menghapuskan segala bentuk kolonialisme, feodalisme, kapitalisme, chauvinisme, zionisme, kretinisme, gigantisme dalam peran komunikasi dan kebebasan berpendapat
d. FORSIPAT menjadi wadah informal yang profesional dalam mengembangkan visi ke depan menjadi wadah bonafit tapi ora pelit medit

3. M Faozan B Latief
Lahir di Tegal, 24 April 1987
Sudah lulus dari Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman
Pengalaman berorganisasi Ketua Seksi VIII OSIS SMA 1 Tegal 2002-2003
Mottonya “A lot of people are afraid to say what they want. That’s why they don’t get what they want”
Program unggulan
a. Career Days Parade for Senior High School
b. Perintisan buku tahunan bekerja sama dengan OSIS
c. Being a Volunteer (Program Kakak Asuh)
Rencana tugas
a. Pelengkapan database FORSIPAT
b. Membuat susunan organisasi untuk 1 periode (2 tahun ke depan)
c. Pembuatan RAT (rencana anggaran tahunan) untuk membicarakan usulan program maupun anggaran dana yang dibutuhkan yang diajukan oleh ketua atau pun panitia yang lain
d. Pelaksanaan program

Nikahnya Yuni Nardiena Kusuma December 20, 2008

Posted by forsipat in pernikahan.
2 comments

Menunaikan amanah yang diberikan pada saya untuk mengabarkan kembali sebuah kabar gembira dari teman seangkatan kita……..
Teriring doa untuk kebahagiaan keduanya melangkah menuju mahligai rumah tangga
Barakallahu laka wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khoir……………………….
Bliau alumni
SMA N 1 tegal : 1-1 ; 2-6 ; 3 IPA 1
(semoga ga salah)

Assalamu’alaikum wr wb
Mohon doa restu sekaligus mengundang kehadiran teman-teman pada walimah kami:
Yuni Nardiena Kusuma, S. Ked.
dan
dr. Muhammad Irfan Dani


Pada hari Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12.00
@ Rumah Yuni di Kompleks Citra Bahari No 44
Jazakumullah ahsanul jaza
Wassalamu’alaikum wr wb

(info dari Kartika Dwi Hapsari)

Info Beasiswa October 22, 2008

Posted by forsipat in beasiswa.
add a comment

Ingin melanjutkan studi?
Ingin tahu tentang perguruan tinggi di Eropa?
Kunjungi pameran pendidikan Eropa pertama dan  terbesar di Indonesia!

European Higher Education Fair 2008

Eropa adalah benua yang harus dipertimbangkan bila anda berpikir untuk melanjutkan studi. Selain bisa mendapatkan pendidikan terbaik dari universitas ternama, kamu juga bisa mendapat pengalaman baru dan unik, belajar berbagai bahasa asing, melihat tempat wisata yang  menarik dan yang tidak kalah
pentingnya adalah bertukar budaya dan tradisi negara-negara Eropa.

Di European Higher Education Fair (EHEF) Jakarta 2008, kamu bisa mendapatkan informasi seputar pendidikan tinggi Eropa. EHEF Jakarta adalah Pameran Pendidikan Eropa terbesar dan pertama di Indonesia yang didanai oleh Uni Eropa dan diselenggarakan oleh Campus France, DAAD, Nuffic dan British
Council. EHEF bertujuan untuk mempromosikan pendidikan tinggi di Eropa kepada masyarakat
Indonesia.

EHEF Jakarta akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal   : Sabtu – Minggu / 1 – 2 November 2008
Tempat            : Kartika Expo Centre, Balai Kartini
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 37, Jakarta 12950
Waktu              : 10.00 – 18.00
Tanda Masuk   : GRATIS dan Terbuka untuk umum

Dapatkan:
· Kesempatan berkonsultasi langsung dengan lebih dari 90 perwakilan dari institusi pendidikan tinggi di Eropa
· Kesempatan mendapatkan informasi beasiswa dan kesempatan riset dari berbagai negara Eropa
· Presentasi mengenai pendidikan tinggi dari perwakilan negara-negara Uni Eropa
· Presentasi beasiswa Erasmus Mundus dari Komisi Uni Eropa

Daftarkan diri kamu secara online di http://www.ehef- jakarta.org/register/, untuk menghindari antrian masuk ke dalam pameran!

Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi website kami www.ehef-jakarta. org atau email ke info@ehef-jakarta. org atau telpon (021) 5290 2172 ext :231

EHEF 2008 didukung oleh Koran Seputar Indonesia, SWA, HAI, Aneka Yess!, Campus Asia, Kompas.com dan Jobstreet.

Link poster EHEF: http://nesoindonesi a.or.id/image/posters/GIANTBANNER.jpg

Inilah kesempatan untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai pendidikan tinggi Eropa !!!

Nikah… Nikah… October 11, 2008

Posted by akhdaafif in pernikahan.
1 comment so far

maap nih, baru keinget sekarang buat posting di blog angkatan kita…

alhamdulillah, temen seangkatan qt ada yang menikah hari ahad besok, 12 oktober 2008. sapa hayo??

Ayu Asana D (dika)

tapi saya lupa suaminya namanya sapa y?? hehehe… undangannya ada di rumah soale…

yo… saya mengucapkan barakallahu laki wa baraka ‘alaiki wa jama’a bainakuma fi khair

Info Lowongan PNS Setneg dan ESDM October 9, 2008

Posted by forsipat in kerja.
add a comment

Ada info lowongan PNS di Setneg, klik ini aja. Ada juga info lowongan dari Departemen ESDM, di sini.

Berita Duka October 9, 2008

Posted by forsipat in berita duka.
add a comment

Teman2 ada berita duka, telah berpulang teman kita alumnus IPA 3 2004, M Arvin tanggal 8 Oktober 2008.  Bagi teman2 yang berkesempatan untuk mengunjungi rumahnya, tolong sampaikan rasa duka cita dari teman2 seangkatan.

Demikian Informasi yang saya peroleh dari rekan2 seperti Banu, Yang (di milis forsipat), dan Herman.

Tambahan info dari SMS-nya Ronald ke saya:

M Arvin akan tutup peti hari Kamis pukul 21.00. Malam penghbran Sabtu pukul 19.00 d Cengbengan Mahanaim. Pemakaman minggu pukul 09.00

Mba kuliah di UI? November 29, 2007

Posted by novelemalam in diary.
3 comments

“Mba kuliah di UI?”

Sepuluh menit sudah aku berdiri di pinggir rel KRL (Kereta Rel Listrik) stasiun Cikini. KRL jurusan Depok belum juga muncul. Akhirnya aku mencoba menyibukkan diri dengan berbenah segala barang-barang yang aku anggap berharga. Ku taruh dompet dan HPku di tas. Ku taruh tasku didepan dada. Ya, beginilah ‘ritual’ yang biasa dilakukan orang-orang sebelum naik KRL. KRL sangat rawan dengan pencopetan, penodongan atau bahkan pelecehan seksual. Harapannya ‘ritual’ tadi bisa meminimalisir terjadinya kejahatan-kejahatan tersebut. Apalagi aku pernah dua kali mengalami kehilangan dompet dan HP. Trauma. Aku nggak kepingin hal itu terjadi lagi.

“Jalur 2 jalur 2 dari arah utara segera masuk kereta tujuan Bogor.

Akhirnya, setelah menunggu sekitar duapuluh menitan KRL yang mau nglewatin Depok nongol juga. Aku segera bersiap-siap. Begitu juga dengan calon penumpang yang lain. Mereka bergegas mendekat ke rel. Niatnya pas KRL datang langsung naik tanpa basa-basi. Memang harus seperti itu. KRL berhenti cuma dalam hitungan detik. Paling lama 20 detik. Kalau nggak cepat-cepat bisa ketingglan.

Keadaan kereta tak seperti yang kubayangkan. Biasanya sesak berjubal orang-orang. Laki perempuan campur jadi satu. Semuanya sama. Tak ada bias gender. Hak mereka juga sama: mendapatkan kesempatan untuk berdesak-desakan. Disitulah banyak dimanfaatkan para pencopet yang bisa saja kalau dalam keadaan kepepet mereka beralih pula menjadi penodong. Selain pencopet dan penodong ada satu jenis lagi pelaku kriminal yang rentan beraksi di dalam KRL. Mereka adalah peleceh seksual. Beda dengan dua jenis kejahatan yang sebelumnya, pelecehan seksual tidak memerlukan keahlian khusus. Asal keadaan mendukung, orang yang tak berniat pun bisa menjadi peleceh seksual dadakan. Mengerikan.

Aku pun mencoba masuk setelah kupersilahkan beberapa wanita duluan. Ladies first, orang bijak bilang. Hampir saja aku menginjakkan kaki kananku pada lantai kereta, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang. Seorang gadis kira-kira seusiaku dengan celana jeans gelap agak ketat dengan polo shirt biru berdiri tepat di belakangku. Bodinya biasa saja. Bahkan cenderung agak gemuk. Wajahnya pas-pasan. Gayanya persis layaknya mahasiswi. Tapi hal itu nggak penting buatku. Dia mau mahasiswa kek, karyawan kek atau siapalah. Yang jelas saat itu aku hanya mencoba menarapkan teori pengenalan lingkungan. First sight, tahap awal menilai lingkungan dari fisiknya. Dia adalah objeknya saat itu.

“Mas, ini lewat UI ya?”

“Ya betul, silahkan mba…” aku persilahkan gadis itu untuk masuk lebih dulu. Kemudian aku menyusul dibelakangnya. Belum sempat aku duduk, kereta sudah bergerak berlahan.

Saat itu gerbong kereta bener-bener longgar. Ada 5 sampai 8 kursi yang masih kosong. Aku duduk tepat disamping pintu supaya bisa menikmati pemandangan sepanjang lintasan KRL sekaligus agar angin bisa langsung menerpa tubuhku, so aku nggak gerah-gerah amat karena waktu itu memang lumayan panas, jam setengah 11 siang. Jarak satu kursi dari tempatku gadis yang tadi duduk. Kereta terus melaju. Semakin lama semakin cepat. Dari pada bengong, pikirku, lebih baik aku ngobrol.

“ Ehem..”

Suaraku sedikit memecah konsentrasi orang yang sedang khusuk mendengarkan bunyi mesin kereta.

“Mba kuliah di UI?”

“Maaf mas…”

Jawabannya mengisyaratkan bahwa dia tidak begitu jelas mendengar suaraku. Maklum, suara KRL cukup mengganggu.

“Mba kuliah di UI?”

Kali ini ku kuatkan frekuensi suaraku.

“Nggak, saya cuma mau ketemuan sama teman.”

“Sudah janjian ya?

“Ya…”

Seharusnya pertanyaan terakhirku tak perlu terlontar. Sudah jelas dia mau ketemu sama temannya berarti dia sudah janjian.

“Dasar bodoh!!.”

Kucaci diriku dalam hati.

Aku bingung harus bertanya apa lagi. Dia pun kelihatannya bukan tipe orang yang suka ngobrol atau berinisiatif memulai percakapan. Sepertinya dia pendiam. Ah, aku terlalu suka berprasangka.

Sebentar lagi kreta tiba di stasiun Manggarai, yaitu stasiun pertama setelah stasiun Cikini jika kita dari arah Kota.

“Yang aus, yang aus..frutang, sprit, fanta, kokakola, mijon.. yang dingin yang biasa. Mas, mijon, mas..” Seorang pedagang menyodorkan sebotol mizone kepadaku.

“Nggak mas” Jawabku.

Tidak bisa dihindari lagi. Ketika kita naik KRL mau tidak mau kita harus bisa beradaptasi dengan suasana KRL yang khas. Penuh dengan riuh suara pedagang asongan, alunan suara pengamen atau mondar-mandir (maaf) pengemis yang seakan-akan tak pernah habis.

“Mas, minta sedekahnya. Mas, tolong…”

Diseberang mata seorang lelaki kotor paruh baya berjalan setengah jongkok dengan tangan kiri aktif membersihkan lantai kereta dengan sebilah sapu kecil. Anaknya yang masih kecil tertidur lelap di gendongannya . Tangan kananya tak henti-hentinya menyentuh siapa saja yang ada didepannya. Bahasa tubuhnya menunjukan sebuah pengharapan belas kasihan dari siapapun yang melihatnya.

“Ah, ackting. Aku yakin dia masih mampu bekerja layaknya orang normal. Dia masih sehat dan kuat kok. Lagian isterinya kemana sih, kok anaknya nggak diurus kayak gitu.”

Astaghfirullah, sempat-sempatnya terbersit hal itu difikiranku. Tiba-tiba aku teringat kata Afif pas dalam perjalanan pulang dari TMII habis menghadiri undangan Pemerintah Kota Tegal waktu ngadain acara tahunan disana beberpa waktu yang lalu. Saat itu kami bicara masalah pengamen, pengemis dan semacamnya. Dia bilang: ‘Intinya kita mau ngasih apa nggak. Kalau mau ngasih ya ngasih, kalau nggak ya nggak. Nggak usah banyak komentar apalgi berprsangka yang nggak-nggak.’

“Maaf pak, lagi nggak ada.” Ku mencoba berbahasa sesopan mungkin dengan suara lembut dan pelan serta muka tersenyum. Aku nggak tau, usahaku untuk membuat kemungkinan sekecil-kecilnya bapak itu kecewa berhasil atau tidak. Bapak itu tak lagi menjawab.

Aku akui waktu itu aku bohong. Di saku celanaku ada seribu rupiah, didompetku ada satu lembar uang limapuluh ribu rupiah. Pikirku waktu itu, yang seribu mau buat naik angkot dari stasiun ke kost-ku dan nggak mungkin juga aku ngasih orang itu dengan uang limapuluh ribuku. Itu adalah uang makanku beberapa minggu kedepan. Ah, dasar nggak niat ngasih. Padahal ketika kupikir-pikir setelah itu bisa saja ku kasihkan yang seribu rupiah dan setelah turun nanti aku bisa tukarkan limapuluh ribuanku untuk naik angkot.

Diapun segera berlalu, beralih ke ‘sasaran’ berikutnya.

“Pak…”

Ku lihat gadis yang tadi menyodorkan genggaman tanggannya dengan sopan ke arah bapak peminta yang habis ku ‘tolak’ tadi. Tak banyak. Hanya seribu rupaih. Tapi cukup membuat ekspresi si bapak menunjukan ungkapan terima kasihnya. Si bapak meneruskan ‘perjalanannya’. Kereta berancang-ancang untuk berhenti.

Pas tepat di stasiun Manggarai kereta berhenti. Beberapa orang masuk, beberapa orang ada yang keluar. Kurasakan suasana masih seperti yang tadi; nggak begitu ramai, nggak begitu sepi. Seorang ibu yang baru masuk duduk tepat disampingku, yang artinya pula duduk tepat diantara aku dan gadis itu. Niatku untuk bisa ngobrol dengan gadis itu punah sudah. Walau cuma iseng, harapanku dengan ngobrol aku bisa nambah teman dan nggak plonga-plongo kaya wong ilang. Saat itu aku jadi bingung, masa mau ngobrol sama ibu-ibu. Nggak seru la ya…

Terlepas dari masalah ibu-ibu yang tadi, KRL kini mulai melaju menuju ke stasiun berikutnya. Dari pada bengong tidak ada teman ngobrol, ku mencoba membuka tas barangkali ada buku yang bisa ku baca-baca. Kebetulan. Di tasku terdapat bebrapa buku. Ada buku kuliah dan diantara buku-buku itu ada juga buku bacaan, Emha Ainun Nadjib: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki yang aku pinjam dari Afif. Buku tersebut merupakan kumpulan artikel-artikel yang di tulis oleh Cak Nun. Aku buka-buka buku itu. Dari setiap judulnya nggak ada yang tak menarik. Semuanya menunjukkan keunikan masing-masing. Isinya pun bagus. Tema yang diangkat sederhana, tapi disampaikan dengan cara yang luar biasa. Cerita-ceritanya menggugah hati kita tentang kebenaran hakiki.

Kubaca satu per satu cerita yang ada. Ku angkat bukuku agak tinggi biar orang-orang ngliat dan tau kalau aku adalah mahasiswa atau paling tidak orang beranggapan aku adalah orang yang suka baca, aku adalah orang terpelajar, orang intelek. Apalagi yang kubaca adalah bukunya Cak Nun. Orang bilang bahasanya agak berat. Istilah-istilahnya sulit. Orang biasa pasti males bacanya. Hal itu semakin membuat hatiku jadi semakin ‘berkibar-kibar’. (Betapa busuknya aku saat itu)

Aku baca buku, suasana tidak berubah. Sorai pedagang asongan masih ramai, silih berganti seakan saling bersahutan. Begitu juga dengan peminta-minta yang beranekaragam bentuknya dan style-nya.

Kembali ku melihat gadis itu mengambil uang ribuan dari tasnya untuk diberikan kepada para peminta. Dua kali sudah dia berbaik hati pada pengemis. Dua ribu baginya mungkin tidak seberapa. Buatku dua ribu sudah bisa buat beli Indomie dua sama saosnya dua. Lumayan bisa ngirit tanpa harus beli nasi di warteg yang sekarang harganya sudah mundak. Maklum, anak kost.

Hampir setengah jam aku berada dalam KRL yang artinya pulu kira-kira sudah setengah perjalanan ku lalui. Dibutuhkan satu jam-an untuk menempuh perjalanan dari stasiun Cikini sampai ke stasiun UI Depok. Kali ini kumerasakan yang beda. Suasana KRL yang tadinya kuanggap biasa sekarang beralih menjadi hal yang menarik untuk di ikuti. Untuk kesekian kalinya aku melihat gadis itu menyodorkan tangannya kepada para peminta. Ku hitung-hitung sudah lebih dari tujuh peminta yang tak luput dari jangkaun tangannya. Seribu, sribu dan seribu. Kalau tujuh berarti tujuh ribu. Kalau sepuluh berarti sepuluh ribu. Ah, jumlah yang kecil bagi sebagian orang. Angggapanku mungkin benar. Dia mungkin orang kaya. Tapi bukan itu masalahnya. Kepedulian. Ya, itu yang tak semua orang punya. Dia begitu peduli dengan lingkungan, dengan para peminta itu. Bagiku hal tersebut bukan sebuah pemandangan yang biasa.

Sekarang sudah sampi stasiun Lenteng Agung. Tinggal satu stasiun lagi yang harus aku lewati untuk sampia ke stasiun UI, stasiun Pancasila. Pemandangan menarik itu masih ada. Gadis itu masih rutin dengan aktifitasnya; memberi setiap pengemis yang lewat. Aku yakin, semua orang yang ada di sekitar situ merasakan hal yang sama denganku: salut dan kagum. Betapa pemurahnya hati gadis itu. Sekali lagi, ini bukan masalah uang sepuluh ribu atau sebelas ribu. Ini masalah kepekaan sosial yang tidak semua orang punya itu. Aku salut, aku kagum. Aku pun tau, gadis itu bukan karena dilihat orang banyak kemudian dia berbuat itu atau bukan pula karena dilihati olehku yang dia tau aku akan menulis kisahnya dan kuposting di blog forsipat ini. Raut mukanya biasa. Sama sekali tidak menunjukan pengharapan untuk dipuji.

Kagumku tak berhenti disitu saja. Aku bingung harus mengekspresikannya dengan cara apa. Yang jelas aku nggak biasa diam untuk hal-hal yang ku anggap luar biasa. Akhirnya muncul ide ‘bagus’. Aku berniat minta no Hpnya. Dengan itu paling tidak aku bisa mengungkapkan kekagumanku dengan mengirim sms kepadanya; “Salam. Dgn tdk bermaksud apa2: terus terang aku kagum dgn kepribadianmu. Salam.” dan kuniatkan ini hanya sebatas mengekspresikan kekaguman, sebatas ungkapan, tanpa tendensi apapun. Terserahlah orang mau menilaiku apa.

Sampailah kereta di stasiun UI. Kebetulan aku turun satu pintu dengannya. Detak jantung ini tak teratur. Aku harus bisa melaksanakn niatku; minta nomer HPnya.

Langsung saja, aku sapa dia dari belakang

“ Mba, mba..”

“Ya..”

“Mba kuliah di UI ya?”

Aku mencoba berbasa-basi. Karena kalau tiba-tiba langsung minta nomer HPnya kan aneh.

“Nggak, aku cuma mau ketemuan sama temen.”

Matanya seakan berkata: ‘ kan tadi saya sudah bilang…’

“O iya yah. Lupa…”

Lagi-lagi aku terlihat bodoh..

“ya sudah, saya duluan ya mba….”

Kebingunganku akan sikap bodohku membuatku nggak konsen dengan tujuanku. Niatku pupus sudah. Aku terlanjur malu. Kuntinggalkan stsiun UI. Ku tinggalkan gadis itu. Tapi takan pernah kutinggalkan kekagumanku atas kemurahan hatinya.(nea)